Tampilkan postingan dengan label cerber. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerber. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 April 2013

Reuni Go_Kill Team #Part2


Di tempat itu, di halaman masjid, perdebatan dengan calo pun kembali terjadi. Kali ini Jaja dan Alay terlihat tenang, mereka punya Dikis. Dikis ini konon katanya punya segudang pengalaman menghadapi calo. Harap maklum, jam terbangnya tinggi. Jurus andalannya cuma satu, PASANG MUKA MELAS. Tapi kali ini kurang berhasil, mereka saling ngotot.

“iki lho mas, tarif pemerintah 140ribu” calo itu menunjukkan sebuah tiket.
“wah, emoh aku nek semono, lha wong aku rombongan lho cak limo, mosok semono” Dikis ngotot.
“yowes sampean njaluk’e piro? Aku paham ae kantonge cah kuliahan ki”.
“sik, fasilitase opo sik iki?”
“yo standar mas, TV, selimut, AC, mangan WC”. (maaf saya melewatkan satu tanda koma)
“iso ngeces ora mas?” Alay yang dari tadi sibuk ngobrol dengan yang lain langsung menyahut.
“iso mas, ngeces sampe elek” jawab calo itu sambil tertawa.
“yesssss” Alay kegirangan.
“nyatusan wes, piye?” Dikis menawar.
“lah sampean mbok kiro-kiro nek nawar mas mas! Suroboyo-Denpasar iku adoh lho”
“lha biasane semono kok” jawab Dikis.
“oke, lek memang sampean biasane semono, saiki tak takon, sampean biasa numpak bis opo?”.
Seketika Dikis pucat. Ternyata dia hanya pura-pura, dan tak tau harus jawab apa.

Sementara itu, tak jauh dari tempat perdebatan itu terjadi, Jaja, Alay, Ucok dan Bunga sedang asyik bercengkrama, melepas kangen. Mereka benar-benar menyerahkan semuanya pada Dikis. Itulah gunanya teman, kata mereka.

***

Kesepakatan pun akhirnya tercapai, 125rb/orang. Lumayan dapat potongan 15ribuan, pikir mereka. Sebelum ke tempat parkir busnya, mereka pamit maghriban dulu, kebetulan adzan baru berkumandang.

Setelah membayar karcis dan memilih kursi, mereka langsung naik. Dikis menanyakan pesannya pada Jaja dan Alay soal KTP. Ya, jadi semua orang yang akan masuk pulau Bali akan diperiksa identitasnya, kalo tidak bawa KTP maka tidak diperbolehkan masuk, begitu katanya Dikis duduk sama Bunga, Alay sama Jaja, dan Ucok sendirian.

“asyik aku sendirian, kursinya luas, bisa bobok selonjor” kata ucok kegirangan.
“ya berdoa aja biar gak ada yang duduk di sebelahmu Cok! Atau kamu pasang muka sangar biar pada takut!” Jaja memberi usulan.
“gak perlu dipasang juga mukaku udah sangar kaliii” Ucok pun sadar diri.
“eh Ja, endi yo jarene mau ono colokan neng bis? Tak golek’i kok gak ketemu” tiba-tiba Alay menimpali.
“lha awakmu mau takone piye?”.
“iso ngeces kah mas?” “trus jarene iso ngono og”.
“maksud’e iku Lay, awakmu iso turu nyampe ngeces ngono lho, nyampe ngiler ngono, mosok gak mudeng”. Jaja mencoba menjelaskan.
“wah licik, diapusi meneh aku”.
“salahmu dewe takon sing aneh-aneh, memange koe tau ndelok bis sing ono colokane nang sebelah kursi”.
“hehe, enggak sih” jawab Alay sambil cengengesan.
“eh, tapi ngomong-ngomong kok panas banget yo” Bunga menimpali.
“iyo e, ACne gak nyala koyok’e” jawab Dikis sambil kipasan pake tas.

Tidak berapa lama, pak kondektur masuk bus dan menjelaskan bahwa penumpang akan dipindah ke bus yang lain karena AC bus sedang rusak dan belum bisa diperbaiki. Mereka pun pindah, dengan formasi tempat duduk yang sama. Kecuali Ucok, sekarang dia duduk agak di depan dan sebelahan sama bapak-bapak bau menyan. Kasihan.

***

Sementara itu, terdengar ribut-ribut di luar bus. Tampak seorang bapak-bapak dengan tas besarnya dikerubungi beberapa orang yang memegang tiket. Ternyata mereka sedang tawar menawar. Lalu bapak itu pun masuk ke bus dengan wajah kesal, dia duduk di bangku depan Jaja dan Alay.

“ada apa pak tadi kok ribut-ribut di luar?” sifat kepo Jaja muncul.
“itu lho mas, masa harga tiketnya mahal bener, ditawar malah ngomel” jawab bapak itu.
“lho memangnya tadi kena berapa pak?” Dikis ikut mengintrogasi.
“100ribu mas, biasanya cuma 80ribu. Kalo sampean tadi kena berapa?”
*hening*

***

Bus berangkat sekitar pukul 20:00 WIB, meninggalkan terminal, meninggalkan bekas ban, meninggalkan mas-mas calo yang mungkin lagi ketawa-ketiwi dapat untung banyak. Sementara di bus, Go_Kill Team sedang sibuk sendiri-sendiri. Alay sibuk benerin selimut, Jaja sibuk twitteran, Ucok sibuk cari mimpi (buat nembak nomer togel), sedangkan Dikis dan Bunga, entah sibuk apa. *uhuk*

Tak terasa waktu terus berputar, bus terus melaju, semakin jauh meninggalkan masa lalu, dan kenangan seperti kota-kota, ditinggalkan begitu saja, tanpa iba (ini kenapa saya malah ngelantur) *dikeplak pembaca*.

Akhirnya bus sampai dan berhenti di sebuah rumah makan, entah di kota mana. Dan para penumpang turun semua. Ada yang ke toilet, ada yang ke mushola, ada yang langsung makan, dan ada juga yang sibuk nyari colokan. Dia tidak lain adalah si Alay.

Sambil menikmati makan malam, mereka nonton siaran bola. Waktu itu yang main Everton. Jaja, Ucok dan Dikis membicarakan si kribo Fellaini, pemain andalan Everton. Sementara Alay cuma mendengarkan. Ya, si Alay memang kurang ngerti soal bola. Pernah beberapa waktu sebelumnya Alay dan Jaja ngobol soal baju bola, begini dialognya:

“Ja, awakmu tuku klambi iku online kah?” Tanya Alay sambil menunjuk jersey Barca yang dipakai Jaja.
“iyo, lha ngopo emange?”
“aku bar tuku juga, tapi wes seminggu rung tekan e, jarene nyasar nang Banjar”
“alamak, diapusi paling awakmu. eh, emange koe pesen jersey opo?”
“sing pasangan lanang wedok kae lho, sing warna putih”
“ohh, MU kah?”
“lain, AON”.


jersey MU away

*Jaja langsung kejang-kejang.*

***

Sudah hampir subuh, dan bus pun sampai di pelabuhan Ketapang. Tidak perlu antri, bus langsung naik ferri dan berlabuh membelah selat Bali. Sebagian penumpang masih asyik mimpi, dan sebagian turun dari bus. Jaja, Ucok dan Alay juga turun, mereka berencana mau ngopi, sambil nge-Popmie, sambil lihat sunrise. Mereka naik ke dek atas, dengan masing-masing membawa segelas kopi yang dibeli di kantin.

Ucok & Alay dengan muka sok imutnya


Kapal bersandar di pelabuhan  Gilimanuk, para penumpang sudah kembali ke kursinya masing-masing. Pak kondektur mengingatkan penumpang untuk mempersiapkan KTPnya, sebentar lagi akan melewati pos pemeriksaan.

Alay dan Jaja jalan belakangan, di depan nampak Dikis dan Bunga berbelok masuk kantor petugas, padahal yang lain terus jalan lurus, lalu Ucok juga belok. Jaja bingung, Alay tetap santai.

"mas, cepat naik! kita sudah mau berangkat" Supir bus itu meneriaki Jaja dan alay.

"entar pak, teman saya masih di kantor" jawab Jaja.
"kenapa lagi, gak bawa KTP kah? sudah dari awal dikasih tau malah nyusahin. sudah cepat naik! tinggal aja mereka!" Pak supir emosi.
"yang benar aja mau ditinggal, memangnya mereka bayar tiketnya separuh" Jaja ikutan emosi, Alay tetap santai.

Sementara itu, di kantor petugas pemeriksaan:

Petugas: "kenapa gak bawa KTP?"
Ucok: "saya bawa SIM pak, ini!"
Petugas: "saya bukan sedang razia motor, saya tanya KTP"
Bunga: "saya bawa KTP pak, tapi sudah expired"
Petugas: "hmmmmm, yasudah gini aja, mumpung saya sedang berbaik hati, kita atur enaknya aja, masing-masing kalian harus bayar  denda 100rb!"
Ucok + Dikis + Bunga: "HAAAAAAAAH???"
Petugas: "ya terserah kalian saja, kalo mau lewat ya harus bayar segitu, kalo gak mau ya terpaksa harus pulang"
Ucok: "tapi uang saya tinggal segini pak". Ucok menunjukkan dompetnya yang berisi selembar 50ribuan dan dua lembar 2ribuan.
Petugas: "maaf, saya bukan sedang jualan, tolong jangan ditawar-tawar!"
Dikis: "tolonglah pak! kasihani kami!". Akhirnya keluarlah jurus andalan Dikis, PASANG MUKA MELAS.
Petugas: "Yasudah lah, mumpung masih pagi, semoga jadi penglaris".

Akhirnya petugas itu mempersilahkan mereka meninggalkan kantor untuk melanjutkan perjalanan. Sampai di bus, mereka langsung dapat omelan dari pak supir. kasihan. Jaja malah ketawa, dan Alay tetap santai.

Sebelum tengah hari, tibalah mereka di terminal kedatangan. Seperti orang hilang, bingung, toleh sana toleh sini. Untungnya di sana tak seperti di terminal lain, lebih tertib dan calonya tidak terlalu ganas. Jaja langsung nyari toilet, Bunga ikutan, yang lain pada nunggu di luar. Pas keluar, Jaja langsung nyelonong aja, dan seorang ibu-ibu meneriaki dengan lantang.
"mas mas, bayar dulu! 2013 gak ada yang gratisan".
"oh, maaf bu, saya gak liat tadi, gak ada tulisan suruh bayarnya juga" jawab Jaja sedikit mengelak sambil memberikan selembar 2ribuan.
Dikis memperhatikan dari luar sambil tertawa, sementara Alay sibuk dengan bb-nya. Tak berapa lama, Bunga keluar dari toilet. Hal yang terjadi pada Jaja tadi pun terjadi lagi pada Bunga, Dikis dan Jaja tertawa, sementara Alay masih sibuk dengan bb-nya.
Tiba-tiba Alay bilang mau ke toilet, yang lain saling bertatapan dan senyum-senyum. Mereka mengamati pintu toilet, menunggu Alay keluar. 1menit, 2menit, 5menit, 10menit, dan akhirnya yang ditunggu-tunggu pun keluar juga. Mereka menahan tawa, seolah tahu apa yang kan terjadi. Dan benar, Alay keluar nyelonong saja dan ibu-ibu penjaga toilet tadi meneriakinya. Tawa pun pecah, dan Alay tetap santai.

Tawar menawar pun kembali terjadi. Kali ini dengan supir taksi. Didik kembali maju sebagai andalan. Tapi kali ini tidak mempan, pendirian pak supir lebih kokoh dibanding tawaran si Dikis. Karna tidak ingin berlama-lama di terminal itu, mereka nurut saja sama tarif yang diminta supir, 125ribu sampai Jalan Poppies 2.

Mereka akhirnya berangkat dengan 1 taksi. Ya, 5 penumpang sekaligus. Jangan heran! ini Bali bung.  (bersambung.....)

Senin, 25 Maret 2013

Reuni Go_Kill Team #Part1

Pesawat mendarat di Juanda tepat pukul 14:00 waktu setempat. Dari kejauhan, nampak dua pemuda yang celingukan di tempat pengambilan bagasi, mereka adalah Jaja dan Alay.

“Lay, bubuhane jam piro tekan kene?” tanya Jaja.
“lha embuh, Dikis mau tak sms tapi gak mbalesi og”
“alamak, yowes sholat sik yok, engko dihubungi meneh cah e!”
“ayo es! tapi nengdi musholane?”
“lha embuh, aku ra ngerti og, kono takon satpam!”
“eh licik, mosok aku” *muka manyun*
“yowes ngene ae, saiki awakmu milih takon satpam opo arep nggoleki dewe?”
“emmm, yo takon satpam ae lah penak”
“yo kono, lincah!” seru jaja sambil tertawa dalam hati karena berhasil ngakalin sohibnya.

Mereka pun sampai di mushola dengan selamat sehat wal afiat tanpa cacat atau tersesat.
Alay girang bukan kepalang, sebab disana dia melihat sebuah tempat colokan yang sedang jomblo (baca: nganggur).

“Ja, ada colokan nganggur, ini namanya rejeki tak terduga”.
dengan wajah sumringah Alay mengeluarkan perlengkapan alat sholat dibayar tunai  nge-charge. Sambil sholat, dibiarkan BBnya menyedot listrik bandara dengan gratis.

Tak lama kemudian mereka selesai. Lalu duduk di kursi depan mushola sambil menunggu balasan sms dari Dikis (ketua rombongan dari Jogja).

“Lay, timbang nganggur mending ganti DP yok! ndang foto’ke aku!” ide Jaja sambil mengeluarkan sebuah buku untuk berpose.

“iki lambang Barcelona’ne diketok’ke yo!” pinta Jaja sambil menunjuk bordiran di bajunya. “Karo tulisan ‘terminal 5’ nang mburi iku ben ketok nek lagi nang bandara” pintanya lagi.
“halah-halah, njaluk tulung kok nyusahi” keluh si Alay.
*jpret* *display picture has been replaced*


ini penampakan hasil fotonya
(jangan dikomen yg jelek2 ya! pliiiis)


***

Hp alay berbunyi, nampaknya ada sms dari dikis.

Cek posisi!
Kami dah nyampe
Madiun
 

“Ja, madiun iku nengdi?” Tanya Alay penasaran.
“oh, Madiun kah, sing jelas neng Jawa Timur”.
*hening*
***

Mereka pun memutuskan untuk menunggu di terminal Bungur Asih. Dari bandara mereka naik  bus Damri. Alay duduk di bangku tambahan (yang sepertinya tempat duduk kondektur), di samping tumpukan tas-tas. Jaja duduk di bangku bagian belakang, di sebelah ibu-ibu hampir tua yang bau balsemnya lumayan menyengat. Ya, mereka sama-sama kurang beruntung.

Tidak lama kemudian sampailah mereka di Bungur Asih. Jaja tidak mau langsung turun. Ia sengaja turun belakangan, karena dari informasi yang dia dapat, di tempat ini banyak tindak kriminal, dan juga dia sebenarnya takut ditarik-tarik calo Surabaya yang terkenal serem (maaf kalau bagian ini agak lebay). Akhirnya dia turun juga, lewat pintu belakang, paling terakhir. Dan si Alay entah kabarnya seperti apa, mungkin lagi rebutan tas sama calo-calo.

"mas, mau kemana mas?" berapa calo itu menyerbu Jaja dengan pertanyaan yang sama.
"enggak pak, sudah ditunggu teman" jawab Jaja dengan wajah memelas dan mencoba menghindar.
"iya, tapi mau kemana?" beberapa calo itu ngotot bertanya dan terus membuntuti Jaja.

Di saat genting begini, Jaja melihat Alay yang sudah berdiri aman sendirian (tanpa calo) di dekat warung makan. Jaja pun langsung berjalan cepat ke arah Alay, tapi para calo itu terus membuntuti.

"ini lho pak teman saya, tanya aja sama dia!" Jaja mengalihkan perhatian para calo itu.
"mas, ini pada mau kemana?" calo-calo itu gantian menyerbu Alay.
"mau ke warung pak" Alay menjawab dengan sangat cool. Seketika angin bertiup agak kencang, memainkan rambut Alay seperti di iklan shampo. Entah kenapa para calo itu langsung menjauh. Jaja cuma bisa bengong, antara heran, kaget, kagum, bingung, dan kelaparan.

***

“eh Lay, mangan sik yuk! Lue banget e aku”.
“yok, tapi mangan opo, nangdi?”.
Jaja dengan sigap menunjuk sebuah warung  bertuliskan ‘ WARUNG LUMINTU’
“neng kono wae, masakane enak!” ajak Jaja.
“weruh seko endi kowe nek enak?” Alay penasaran.
“soale nang cerak nggonku kerjo ono juga Warung Lumintu masakane enak, sopo ngerti iku cabange”.
“yowes yok! Lincah!” Alay nurut saja dan kelihatannya percaya.

Mereka bercengkrama sembari makan. Membicarakan hal-hal yang tidak jelas, sambil sesekali si Alay melirik sana-sini seperti ada yang dicari. Sehabis makan, Alay pamit ke toilet. Ternyata warung itu sebelahan sama toilet umum. *Hoek cuh*.

Sambil menunggu Alay, seperti biasa, Jaja sibuk dengan BBnya. Kalo gak update status, ya check-in, atau stalking TL mantannya. Kalo chat atau sms kayaknya gak mungkin, soalnya dia itu jomblo belum ketemu jodoh, katanya. Kasian banget ya. Makanya, kalo kamu kasian (dan sedang jomblo), bantuin dia donk! Cariin pacar kek, atau pacarin sekalian juga boleh.

Alay kembali dengan langkah agak cepat, sambil senyum-senyum.
“ngopo ngguya-ngguyu ae Lay?”
“coba delok iku!” alay menujuk sebuah tulisan di dinding dekat penjaga toilet umum.

'TERIMA JASA NGECHAS
RP 2000 SAMPE PUASSSS'
*penulisan yg salah mohon tidak diprotes,
penulis hanya menjaga originalitas, thanks*

Selanjutnya silahkan tebak sendiri apa yang Alay lakukan sebagai seorang 'colokan addict'!

***

Waktu terus berlalu dan mereka pun mulai jenuh menunggu. Masih di warung itu, suasana jadi semakin tidak nyaman karena mbak penjaga warung dari tadi mencuri-curi pandang dengan tatapan seperti ingin mengusir. Akhirnya mereka pergi dari warung itu, menuju masjid terdekat. Kenapa harus masjid? karena di masjid itu tempatnya pasti nyaman (dan gratis).

Di masjid, Alay sibuk mainan hp. Katanya sih sms-an sama Dikis, tapi palingan bbm-an sama pacarnya. Sedangkan Jaja asyik membaca buku.

"Ja, jarene bubuhane numpak bis Sumber Kencana, diluk meneh tekan jare"
"sip lah. awakmu ngawasi yo! aku jik sibuk"
"yoh wes"

Mata Alay terus mengawasi ke arah gerbang kedatangan. Tiap ada bus masuk, dibacanya nama bus-bus itu dengan sedikit nyaring, sampai dilihatin ibu-ibu yang habis sholat dan dia tetap dengan gaya cueknya.

"Eh kae lho Ja, Sumber Makmur"
"Sumber Kencana Layyyyyy" jawab Jaja sedikit cuek.
"nah iku lho!" Alay menunjuk bus yang baru masuk.
"iku Rama Kencana Layyyyyyy, liwarrrr"
"Lha mau opo?"
"SUMBER KENCANA" Jaja mulai emosi.

Tidak lama kemudian, Alay bersorak.
"Itu diaaaaaaa" kata Alay sambil menunjuk sebuah bus bertuliskan "RESTU"
*hening*

***

Sebelum adzan Maghrib, Dikis dan rombongan tiba. Mereka bertemu di halaman masjid, saling melepas rindu. Bersalaman, berpelukan, berciuman. Dikis datang bersama 3 orang lainnya. Mereka adalah Ucok, dan seorang gadis (sebut saja namanya Bunga), dan seorang lagi. Dia berambut agak gondrong, memakai topi, dan SKSD. Dia tidak lain adalah mas mas CALO...... (bersambung)

Temans